Tabiat wakil rakyat banyak ngomong dalam rapat adalah manifestasi
dari reformasi, yang konon di sana menjunjung kebebasan, keterbukaan, lain kata:
nggak perlu dipendam jika ada unek-unek, dimuntahkan saja, lalu muntahannya ditamparkan
ke telinga si eksekutif hingga panas.
Wail rakyat pun sekarang leluasa angkat ngomong jika
sedang rapat dengar pendapat, rapat janggal, hak angket, hak bertnaya, dan
hak-hak apapun dengan eksekutif baik itu dengan dirjen atau sekalipun dengan Menteri,
dan tak nanggung memborbardirnya dengan pertanyaan dari segala penjuru, apa pun
pertanyaannya, yang nyambung atau tidak, yang lurus atau yang melenceng, yang
di luar atau di zona substansi, yang lucu atau serius, yang berdampak
kepentingan publik atau dirinya, pokoknya muntahin aja sampai panas telinganya
si Menteri, kalau perlu sampai titik klimaks: keluar tetes air mata.
Wakil rakyat sekarang pada berani, memang seharusnya
berani, berani menyalak dan menggong seperti ….(belum terpikirkan oleh saya),
membuat orang jengkel layaknya tukang ngamen yang gaduh di dalam bis kota
berteriak menyanyi meskipun bis berdesak-desakan, membuat jatuh menangis
dramatis seperti tontonan teater atau adegan film, pandai membidik dan menarik
pelatuk menembakkan peluru dengan jitu ke jantung si Menteri bak seniper yang
piawai.
Tak ayal, perang bicara, tarik menarik omongan yang
kemudian terbalut emosi dan nafsu, lepas
dari jerninya pikiran dan hati, semakin mendominasi atmosfir ruang sidang arena
perang eksekutif versus wakil rakyat.
Akhirnya rombongan eksekutif yang hanya segelintir pun
tak berdaya menangkis peluru mulut para wakil rakyat. Angkat bendera putih,
kalah dan menerima saja keinginan Wakil Rakyat.
Presiden sekali pun, kalo perlu dipanggil, ditanya,
ditelisik, dikorek-korek, digeledah, dicecar, ditelanjangi, dipermalukan di
depan publik, sampai pamor poktiknya pun turun.
Kesal dengan tindakan wakil rakyat yang kian hari seperti
taman kanak-kanak, ngomong sekena udelnya, tergantung arah idung, dan arah
angin, bagi Presiden tak tinggal diam, namun tak berbalas menggunjing.
“Jangan2, dewan
banyak maunya kalo banyak ngomong” Resah Presidan dalam hati.
Suatu hari Presiden dipanggil oleh Wakil Rakyat utuk
ditanya segala macam, namun Dia urung datang karena pasti akan menduga arena
peperangan tidak produktif yang justru akan menjatuhkan pamor politiknya saja, kalo
hadir sama saja konyol, bunuh diri. Alih-alih presiden pun mencari alasan untuk
tidak bisa datang memenuhi panggilan Wakil Rakyat, alasannya ada tamu dari
menteri luar negeri Negara tetangga, yang sebetulnya sudah menjadi agenda
Menlunya, dan Menlu pun sudah mempersiapkan dirinya untuk menyambut Menlu
Negara tetangga, pendek kata, Menlu ya mesti diladenin dengan Menlu, Presiden
ya dengan Presiden, supaya sederajat.
Presiden kemudian mengutus salah satu mentri untuk
mendatangi undangan DPR seharian penuh, dan menyuruh staff pribadinya dengan
maksud memata-matai dan mencatat siapa saja yang paling banyak ngomong (teringat
adagium banyak ngomong banyak maunya).
“Staff, kamu dampingin Bu Menteri rapat sama DPR”
instruksi Presiden
“Siap, Pak, lha bapak
memangnya mau kemana?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar