Jumat, 10 Mei 2013

Kutahu yang Kau Mau


Tabiat wakil rakyat banyak ngomong dalam rapat adalah manifestasi dari reformasi, yang konon di sana menjunjung kebebasan, keterbukaan, lain kata: nggak perlu dipendam jika ada unek-unek, dimuntahkan saja, lalu muntahannya ditamparkan ke telinga si eksekutif hingga panas.
Wail rakyat pun sekarang leluasa angkat ngomong jika sedang rapat dengar pendapat, rapat janggal, hak angket, hak bertnaya, dan hak-hak apapun dengan eksekutif baik itu dengan dirjen atau sekalipun dengan Menteri, dan tak nanggung memborbardirnya dengan pertanyaan dari segala penjuru, apa pun pertanyaannya, yang nyambung atau tidak, yang lurus atau yang melenceng, yang di luar atau di zona substansi, yang lucu atau serius, yang berdampak kepentingan publik atau dirinya, pokoknya muntahin aja sampai panas telinganya si Menteri, kalau perlu sampai titik klimaks: keluar tetes air mata.
Wakil rakyat sekarang pada berani, memang seharusnya berani, berani menyalak dan menggong seperti ….(belum terpikirkan oleh saya), membuat orang jengkel layaknya tukang ngamen yang gaduh di dalam bis kota berteriak menyanyi meskipun bis berdesak-desakan, membuat jatuh menangis dramatis seperti tontonan teater atau adegan film, pandai membidik dan menarik pelatuk menembakkan peluru dengan jitu ke jantung si Menteri bak seniper yang piawai.
Tak ayal, perang bicara, tarik menarik omongan yang kemudian terbalut emosi  dan nafsu, lepas dari jerninya pikiran dan hati, semakin mendominasi atmosfir ruang sidang arena perang eksekutif versus wakil rakyat.
Akhirnya rombongan eksekutif yang hanya segelintir pun tak berdaya menangkis peluru mulut para wakil rakyat. Angkat bendera putih, kalah dan menerima saja keinginan Wakil Rakyat.
Presiden sekali pun, kalo perlu dipanggil, ditanya, ditelisik, dikorek-korek, digeledah, dicecar, ditelanjangi, dipermalukan di depan publik, sampai pamor poktiknya pun turun.
Kesal dengan tindakan wakil rakyat yang kian hari seperti taman kanak-kanak, ngomong sekena udelnya, tergantung arah idung, dan arah angin, bagi Presiden tak tinggal diam, namun tak berbalas menggunjing.
 “Jangan2, dewan banyak maunya kalo banyak ngomong” Resah Presidan dalam hati.
Suatu hari Presiden dipanggil oleh Wakil Rakyat utuk ditanya segala macam, namun Dia urung datang karena pasti akan menduga arena peperangan tidak produktif yang justru akan menjatuhkan pamor politiknya saja, kalo hadir sama saja konyol, bunuh diri. Alih-alih presiden pun mencari alasan untuk tidak bisa datang memenuhi panggilan Wakil Rakyat, alasannya ada tamu dari menteri luar negeri Negara tetangga, yang sebetulnya sudah menjadi agenda Menlunya, dan Menlu pun sudah mempersiapkan dirinya untuk menyambut Menlu Negara tetangga, pendek kata, Menlu ya mesti diladenin dengan Menlu, Presiden ya dengan Presiden, supaya sederajat.
Presiden kemudian mengutus salah satu mentri untuk mendatangi undangan DPR seharian penuh, dan menyuruh staff pribadinya dengan maksud memata-matai dan mencatat siapa saja yang paling banyak ngomong (teringat adagium banyak ngomong banyak maunya).
“Staff, kamu dampingin Bu Menteri rapat sama DPR” instruksi Presiden
“Siap, Pak, lha bapak memangnya mau kemana?” 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar